Label

Minggu, 27 Mei 2018

Selayang Pandang


 Assalamu'alaikum...
Haii, namaku Alya Nur Fadhilah (kalian taulah dari judul blog ini, hehehe). Aku asli Solo, lahir 22 April 1996 lalu.   Saat ini, sedang mengejar ilmu di Fakultas Kedokteran Gigi UGM dan berjuang bersama teman-teman di Rumah Qur'an Jogja (RQJ). Doakan ya profesi dan ilmu itu kelak bermanfaat dan membawa kebaikan. Aamiin.
Segala kata yang tertulis dalam blog ini, besar harapanku bisa menginspirasi kalian. Aku sedang belajar membuat karya yang bukan sekadar menghibur atau curahan hati manusia yang lemah ini. Sebab dengan menulis, aku bisa menyapa kalian yang jauh, memberi tanpa kenal pamrih, dan berbagi tak terbatas pada siapa kalian. Jika ada sesuatu yang positif, silakan dicerna. Bila negatif, mohon maafkan segala kenaifan. Bacalah dengan hati, sebab ilmu adalah nur (cahaya) dan masuk melalui hati yang bersih. Sesungguhnya ilmu ini hanya milik Allah.
Segala kesamaan nama, tokoh, dan tempat, bukan merupakan unsur kesengajaan (kecuali memang kisah nyata dan persetujuan pihak). Boleh lho dikomentari. Semoga menginspirasi. Aaamiin. ^_^
     

Contact
fb : Alya Nur Fadhilah
email: alyanur.azfh@gmail.com
Instagram :alya.n.fadhilah
Line ID : alyanur.azfh

Sabtu, 26 Mei 2018

Mimpi yang Diingatkan Allah


Besarnya penerimaan, ternyata harus dibarengi dengan konsistensi. Hari ini sabar, besok enggak, kan sama saja. Dan hari-hari berat itu datang. Ketika sedang jalan di lorong kampus, dosen sedang membahas sesuatu dengan dosen lain, “Kemarin ada mahasiswa enggak lulus yudisium cuma karna fotokopian. Harusnya kan bisa yudisium ulang, ya?”, tanpa menyadari yang mereka bicarakan adalah aku. Ketika bertemu teman-teman, pertanyaan mereka hanya sama, “Eh kemarin jadinya gimana Al? Kemarin kenapa sih, Al?”. Pada akhirnya mereka hanya berspekulasi sendiri-sendiri, karena setiap cerita mouth to mouth selalu ada bagian yang tertinggal.
Kemudian aku membenci kampusku sendiri. Membenci orang-orang yang berisik bertanya. Membenci orang-orang yang menyebarkan info tanpa tahu dasar cerita. Hanya beberapa temanku yang tahu pasti tentang semuanya, mereka yang membantuku selama kejadian itu. Berdiam diri di rumah juga semakin sesak.
Pada akhirnya, aku menemukan titik penting skenario Allah yang mengubah bagian hidupku selanjutnya. Alya di tahun 2013 pernah menuliskan target, selesai menghafal Quran di umur 20 tahun. Saat itu aku sudah lebih dari 21 tahun. Dan mungkin ini kesempatan dari Allah, untuk merealisasikan target itu. Bukankah, selama ini aku sudah cukup sibuk dengan urusan kuliah, organisasi, asrama? Bukankah, kelak ketika koas, semakin disibukkan dan semakin dijauhkan dari target itu?
Pondok Tahfidz Wadil Quran, Tangerang Selatan
Hingga keberangkatan ke Tangerang Selatan saat itu, dimulai dengan berat hati. Berkali-kali istikhoroh, semoga itu bukan pelarian. Disanalah, aku menemukan suasana jiwa yang baru. Pondok Tahfidz Wadil Quran menawarkan 2 program utama: 2 bulan selesai 30 juz dan 1 bulan mutqin 5 juz. Aku mengikuti program 2 bulan.
September 2017, hari-hariku berubah. Hp kami disita, hanya dikembalikan saat hari jumat. Target pribadiku ingin menyelesaikan 30 juz dalam 1 bulan saja, karena bulan depan ada yudisium wisuda November. Satu tahun di Rumah Quran Jogja, sudah memberiku bekal 8 juz, sehingga aku hanya perlu murojaah di Dauroh Quran ini.
Wadil Quran menawarkan konsep pondok pesantren. Kami mencuci baju sendiri, tidur bersama dalam satu ruang, makan dalam satu nampan, dan wilayahnya yang sejuk di area pemancingan. Sejak pukul 3 pagi hingga jam 9 malam kami harus setoran. Untuk akhwat ada dua muhafidzoh, ustadzah Hana dan ustadzah Shofa.
Hari-hari awal, aku begitu semangat mengejar target. Dari pagi hingga malam, aku duduk di tepi kolam ikan untuk fokus. Lalu masuk ke dalam untuk menyetorkan hafalan. Pertengahan bulan aku mulai jenuh. Berniat menghafal, tapi ujungnya hanya melamun di tepi kolam. Berusaha mencari celah untuk ijin keluar area pondok saat hari jumat. Bahkan mencari tempat nyaman untuk tidur saat jam setoran. Memang, hambatan terbesar menghafal adalah diri sendiri.
Di tempat itu aku tidak disibukkan dengan urusan dunia. Di tempat itu, setiap menit hanya diisi dengan lantunan ayat Quran para peserta. Di tempat itu, kita disejukkan dengan kalimat-kalimat bersih dari lisan penghafal Quran. Setiap pergantian 2 juz, ruangan selalu digemakan dengan takbir 3 kali semua peserta. Setiap ada yang sudah selesai menyetorkan 30 juz, ruangan semakin ramai oleh teriakan 10 takbir. Ketika  peserta sudah menyelesaikan tantangan terakhir, ruangan akan dipenuhi takbir bertubi-tubi, pelukan haru, dan doa-doa. Ah, menuliskan ini, aku serasa masih ada di tempat itu.
Jika mengikuti program mutqin 5 juz, peserta wajib menyetorkan sekali duduk hafalan 5 juz di depan muhafidzoh (kecuali untuk ke kamar mandi). Jika mengikuti program hafalan 30 juz, ada tantangan di akhir yang harus diselesaikan, yaitu melanjutkan ayat atau tasmi’ ayat tertentu di hadapan semua peserta. Tapi biasanya peserta memilih tasmi’ juz terakhir yang disetorkan. Suatu ketika ada ikhwan yang memilih tantangan lanjut ayat, dengan dihadiri seluruh ustad dan peserta. Ustad melantunkan ayat per ayat untuk dilanjutkan peserta tersebut. Mengharukan, pertama kalinya melihat langsung selain di televisi.
Aku menemukan banyak teman dari berbagai daerah dan usia. Ada Yuni, lulusan SMA, asal Riau, rela satu tahun berhenti untuk menyelesaikan hafalan. Dina yang kompetitif, lulusan SMP asal Riau, yang juga ingin fokus hafalan sebelum SMA. Pokoknya Dina tidak mau kalah dari aku soal setoran. Kalau dia kalah, dia akan begadang untuk menambah setoran ke ustadzah. Kak Ayi, dari Aceh, yang selalu membawa ceria dengan logatnya. Kak Ela, mahasiswa Bandung aktivis Kammi yang suka sok-sokan berbahasa arab dengan gaya Quran. “Qowiyyun rijalun,” katanya, menjiplak dari surat Al-Baqarah. Saking gemasnya, bahkan ia mencoret-coret kesalahan setoran langsung pakai bolpen merah di Qurannya. Ada juga Rifa, dari Medan, yang baru belajar menghafal dan sangat sabar menyetorkan per ayat pada awalnya. Ia selalu menghafal di dekat muhafidzoh. “Nanti kalo jauh-jauh terus mau setoran, hafalannya udah berjatuhan di jalan, lupa deh Kak,” jelasnya waktu itu. Ada juga kak Ragil, lulusan STAN, yang selalu istiomah menyetorkan hafalan dalam segala kondisi. Ada pula seorang ibu asal Jogja, yang selalu menyemangatiku dan banyak berbagi cerita. Daris, orang Jakarta yang humoris. Daris mengikuti program mutqin 5 juz, yang membuatnya selalu menepi ke hutan untuk hafalan. Dan yang paling diingat, Luffi, mahasiswi LIPIA, yang selalu tidur di sebelahku dan mendengar semua curhatanku. Sayangnya Luffi sudah pulang lebih dulu setelah selesai program 5 juz.
Pasti rindu, pada suasana makan bersama, mengantre setoran, kebahagiaan kecil sekadar keluar area pondok, hingga kejadian-kejadian konyol. Hingga hari itu tiba, aku tasmi’ terakhir sebelum kepulangan. Aku sedih karena harus pergi. Dan aku sedih karena harus pulang dengan kesibukan yang tidak menenangkan. Semua peserta akhwat memelukku, berkali-kali aku meminta doa untuk bisa menjaga. Di hari perpisahan denganku itu, beberapa orang bertanya.
“Apa yang kamu rasakan sekarang?”
“Takut. Karena merasa tidak pantas. Dan kesibukan ke depan semakin buat lalai.”
“Kak, gimana sih caranya bisa hafal cepat?”
“Seorang ustad pernah bilang, kemampuan menghafal cepat itu dari Allah. tapi keinginan untuk menghafal cepat itu dari setan.”
Hari itu pula aku ingat percakapan dengan seorang ammah di Asma Amanina beberapa tahun lalu.
“Alya bisa membayangkan perasaan orangtua, saat wisuda nanti kita bukan hanya memberikan ijazah sarjana, tapi juga sertifikat hafalan Quran,” katanya.
“Keren sih, Am. Tapi kan target wisudaku 2 tahun lagi, mana bisa selesai hafalan secepat itu?” jawabnya.
“Bisa!”
Sungguh berapa banyak orang memberikan inspirasi. Mungkin saat itu aku sama sekali belum ada niat untuk merealisasikan dengan serius, ibarat kata hanya ‘ingin-ingin’ belaka. Tapi siapa sangka, doa beliau yang diamini malaikat, untuk kami berdua. Karena di bulan yang sama, aku sedang Dauroh Quran di Tangerang, sedangkan beliau Mukhoyyam Quran terakhir di Jogja. Dan rupanya, kami wisuda sarjana bersama bulan November.

Al-Quran di Topkapi Palace, Turki
Sungguh Allah penyusun skenario terbaik. Pernah berderai-derai sedih ditunda wisuda sarjana. Padahal, Dia hanya bermaksud menunda urusan dunia untuk suatu kesempatan yang tidak semua orang miliki. Aku masih perlu dipaksa oleh Allah. sementara di sini, banyak peserta yang merelakan waktu sekolah untuk fokus menghafal, ibu-ibu yang meninggalkan keluarga untuk dekat dengan Quran, dan orang-orang sibuk yang menanggalkan urusannya.
Tapi sungguh kemuliaan kita bukan diukur dari banyaknya hafalan secara dhahir saja. Sebab jalan kita masih panjang. Belum tahu, esok kita mati sebagai penghafal, atau pendosa besar karena melupakan hafalan. Esok, kita dibangkitkan bersama penghafal, atau malah menjadi mantan penghafal. Lusa, kta sanggup menyetorkan hafalan di hadapan Allah, atau langsung dilempar ke neraka. Sebab setiap rasa sombong, riya, sangat mudah bagi Allah menghapus amalan itu. Setiap maksiat yang dilakukan, sangat mudah bagi Allah mencerai-berai hafalan. Setiap barang haram yang masuk, sangat mudah bagi Allah meuntahkan semua hafalan itu. Cukuplah Allah Yang Mulia, bukan manusia yang naif. (AL)

KOK ENGGAK JADI WISUDA AGUSTUS?



Hai, mungkin sudah lama menghilang dari blog ini. Jadilah banyak orang bertanya, Alya kemana saja? Sedang sibuk apa? Dan berbagai penjelasan atas banyak hal yang sudah terjadi. Akhirnya tulisan ini menanggapi pertanyaan dari secreto, kenapa aku sudah lama tidak menulis.
Ini kisah yang banyak sekali orang menanyakan. Kenapa Alya akhirnya wisuda November? Padahal tampaknya urusan skripsi progresif dan baik-baik saja. Dan itu adalah pertanyaan yang paling mengganggu di masa-masa itu. Pertama kalinya membuat aku ingin menjadi introvert, tidak ingin bertemu orang, karena enggan dengan pertanyaan itu.
Ya, urusan skripsi memang tergolong beruntung karena tidak banyak hambatan. Maret sudah selesai skripsi, tapi Juni baru sidang karena mendapat 2 dosen penguji yang sama-sama menjabat sebagai dekan FKG (di universitas yang berbeda). Membutuhkan waktu lama untuk match tanggal sidang. Alhasil, target wisuda mundur jadi Agustus.
Saat itu sudah berencana pergi ke Turki untuk acara FIMA Summercamp (tulisan beberapa bulan lalu). Tanggal yudisium bertepatan dengan kepulanganku dari Turki, jadi direncanakan masih bisa ikut yudisium (meskipun teman-teman bilang datang yudisium itu nggak wajib). 
Oke, berangkatlah mulai tanggal 14-25 Juli 2017. Selama di camp Kocaeli, Turki, kami tidak mendapat akses internet dari tanggal 16-20 Juli, karena medan pegunungan dan aku sendiri tidak membeli paket internet luar negeri. Kamis malam, ketika kami sudah pindah ke asrama di Istanbul dan mendapat akses wifi, baru mendapat banyak informasi dari grup kalau ternyata yudisium dimajukan menjadi tanggal 21 Juli (esoknya). Malam itu (tanggal 20), aku menghubungi teman kampus (di Indonesia sudah tanggal 21 Juli pagi) untuk titip bayar wisuda, supaya aku mendapat password untuk registrasi wisuda online
Agenda di Turki pada tanggal 21 Juli adalah Istanbul Trip. Banyak tempat yang harus dikunjungi, membuat kami terburu-buru bahkan untuk sekadar berfoto. Teman kampus di Indonesia sibuk menelepon, menanyakan kabar dan aktivitas saat itu. Tapi setelah jawabanku, dia hanya bilang, “Yaudah Al, nanti saja ya. Selamat jalan-jalan”. Seperti ada hal buruk yang ingin disampaikan.
Sorenya kami bersiap untuk meluncur ke Dolmabahce Palace. Di istana kenegaraan Turki itu, kami akan mendengarkan pidato Presiden Turki, Erdogan. Di tengah kesibukan bersiap, aku sempat membaca pesan dari koordinator angkatan wisuda Agustus yang tertimbun di bawah, memberitahukan bahwa aku dinyatakan tidak lulus yudisium karena nilai skripsi belum keluar. Aku langsung menelepon teman kampus yang tadi siang menghubungi dan memastikan itu semua (saat itu Indonesia sudah larut malam). Rupanya berita itu yang ingin dia sampaikan.
Seorang teman menyadarkan ketika aku ngotot ingin reschedule tiket pulang, “Memangnya kalau kamu pulang besok, terus kamu jadi lulus yudisium dan bisa wisuda Agustus? Kan yudisiumnya sudah selesai”.
Aku menghadiri pidato Erdogan dengan pikiran yang sudah jauh pulang ke Jogja. Sekalipun berderai-derai, berdoa di tanah suci Madinah saat transit, bergalau sepanjang sisa hari di Turki, berjam-jam tidur di atas pesawat demi melupakan masalah, itu hanya membuat perjalananku semakin berat. Ternyata hati masih sempit oleh rencana manusia yang tidak beresensi.

Selat Bosphorus
Sesampainya di Jogja, aku dan kawanku menghadap wakadek kemahasiswaan. Mereka mempermasalahkan berkas nilai skripsi yang hanya fotokopi. Padahal di daftar berkas yudisium, semua berkas memang diminta fotokopi. Bahkan wakadek sempat berkata, “Jaman sekarang, mahasiswa yang kelihatan baik pun juga sudah pandai memalsukan tanda tangan. Itulah kenapa berkas asli itu penting”. Aku masih belum paham korelasi kalimat beliau dengan masalahku.
Akhirnya aku menghadap dosbing skripsi. Di hadapanku berkumpul dosbing skripsi, kepala departemen, dan beberapa dosen yang membantu. Mereka pun tidak menyangka aku tidak lulus yudisium tanpa dihubungi kekurangan berkas lainnya. Padahal semua mahasiswa dihubungi beberapa hari sebelumnya, jika masih ada berkas yang kurang. Tapi ada satu kalimat dari seorang dosen ketika melihat berkas asli nilai skripsi yang membuatku sadar pokok permasalahan kasus ini. Beliau berkata dan meminta pendapat yang lain, “Ini tanda tangan asli kok ya, nggak dipalsukan. Orang ketebalan bolpennya juga sama! Yaudah yuk kita menghadap pak dekan, bilang kalau ini tanda tangan beliau asli”.
Deg! Jadi itu bukan masalah berkas fotokopi? Jadi itu sebabnya aku tidak dihubungi terlebih dahulu karena seharusnya memberikan berkas asli? Mereka sudah enggan menghubungiku karena prasangka memalsukan tanda tangan seorang dekan. Bahkan, selama aku kuliah, aku memegang teguh prinsip untuk tidak TA atau dimintai orang TA. Bahkan aku pernah mengulang mata kuliah, karena presensi yang kurang (ketika masih sibuk asrama dan organisasi), disaat aku punya kesempatan untuk TA. Jadi itu menurut beliau, mahasiswa yang terlihat baik, tapi bisa saja memalsukan tanda tangan?
Tanda-tangan

Di luar ruangan, aku mengamati tanda tangan dekan. Pada satu lembar kertas, dosen tersebut tanda tangan di dua kolom, sebagai dosen penguji skripsi dan sebagai dekan.
“Kok bisa ya tanda tangannya beda?”
“Beliau emang suka gitu Al kalo tanda-tangan, beda-beda,” jelas temanku yang menjadi anak bimbing skripsi pak dekan.
Hari itu ditutup dengan malam yang penuh pikiran. Sudah habis cara menenangkan diri, sudah habis kata untuk berdoa, sudah lelah hati untuk benci. Yang bisa hanya solat sepanjang malam dan tilawah sampai mengantuk. Aku tidur di atas sajadah sampai pagi.
Tapi, ada hawa yang berbeda pagi itu. Bukan lagi memikirkan yang lalu, tapi pikiranku malah sibuk menyusun rencana aktivitas sambil menunggu wisuda november yang masih sangat lama. Entah apa yang terjadi, padahal malam itu aku tidak solat istikhoroh. Malam itu sebelum tidur, pikiranku hanya dipenuhi ambisi dan keyakinan bisa Agustus. Tapi pagi hari sungguh berbeda. Mungkin itu ingin Allah. Pada kondisi hati penuh kepasrahan, tanpa ada lagi nafsu, sesungguhnya seluruh hati itu sudah milik Allah.
Aku datang ke kampus pagi hari, bukan untuk menanti kabar kelulusan yudisium susulan. Tapi untuk menanyakan UKT dan KRS, karena hari itu hari terakhir bayar UKT dan KRS. Di depan pintu akademik, hpku berdering panggilan masuk. Suara di telepon pun masih bisa dijangkau dengan telinga sendiri. Ternyata jarak beberapa ubin dari tempatku berdiri, seorang pertugas akademik meneleponku untuk memberitahu bahwa aku dipanggil untuk menghadap kepala bagian akademik. Sebuah skenario Allah.
Di ruangan itu, kepala bagian akademik menjelaskan semua alur yang terjadi. Aku mendengarkan dengan hati yang paling luas, meskipun sebelumnya aku menyimpan benci paling dalam atas tuduhan itu. Akademik FKG mengaku sudah mendiskusikan kasus ini ke pusat, dan memang ada peraturan tidak boleh diadakan yudisium ulang. Aku tetap tidak bisa wisuda Agustus, tapi difasilitasi UKT tidak membayar dan KRS diblok untuk sementara sampai November. Allah mengendalikan hatiku untuk legowo.
Berdasarkan kumpulan data dan analisis, semua yang terjadi memang ujungnya mengarah pada 1 kesimpulan takdir: Alya wisuda November. Semua skenario unik sudah disusun Allah sejak aku sidang. Ada banyak spot yang terlibat, yang semakin menguatkan takdir itu, diantaranya:
1.    Di hari sidang, dekan kebablasan tanda tangan di kolom dekan. Padahal semestinya beliau hanya tanda tangan di kolom dosen penguji. Karena merasa sudah lengkap, aku pun tidak mengikuti alur akademik untuk dimintakan tanda tangan dekan. Akhirnya, lembar asli masih tersimpan dan yang dikumpulkan adalah salinannya. Dan itu adalah kesalahan.
2.    Pembayaran wisuda sudah bisa dilakukan sebelum yudisium. Teman yang sempat kuminta tolong untuk membayarkan wisuda, ternyata tidak membayar di pagi hari sebelum yudisium. Jika ia membayar paginya, kemungkinan akan tahu bahwa aku masuk dalam daftar tidak lulus karena berkas dianggap kurang, dan masih ada kesempatan untuk melengkapi.
3.    Akademik sudah memberikan data nilai skripsi mahasiswa di semua departemen, supaya ada klarifikasi jika memang nilai belum lengkap, bisa segera diselesaikan. Tapi departemen skripsiku tidak membalas surat itu, terutama berkenaan namaku yang nilainya belum keluar.
4.    Kepala departemen skripsi datang terlambat ketika acara yudisium sudah selesai. Sehingga tidak ada yang menyadari bahwa aku tidak tercantum dalam kelulusan.
5.    Pagi hari sebelum yudisium, kepala akademik mencariku dan hendak ditanyakan ke kepala departemen. Tapi ternyata kepala departemen terlambat. Di waktu yang sama, satu jam pembahasan yudisium sempat alot dan banyak perdebatan karena 1 mahasiswa yang terancam DO karena S1 lebih dari 5 tahun. Perdebatan yang melelahkan itu membuat namaku yang tadinya diingat orang-orang akademik, seketika terlupakan dan tidak dibahas lagi.
6.    Aku yang sedang di Turki dan tidak update info selama camp karena keterbatasan sinyal, hingga tidak sempat cek nilai skripsi di portal akademik. Padahal di grup sudah berkali-kali diminta untuk cek jika nilai belum keluar.

Teringat sebuah hadits, apa-apa yang mengenaimu tidak akan luput darimu. Dan apa-apa yang luput darimu tidak akan mengenaimu. Sangat mudah bagi Allah membuat semesta mendukung atau malah menolaknya, salah satunya lewat tangan-tangan manusia lain. Hanya sepotong kisah, yang mengajarkan sesuatu yang besar tentang kepasrahan dan percaya. Dalam konteks sekarang, kesedihan waktu itu alay sih hehe. Cuma kembalian beli micin (baca: recehan). Yaelah, cuma ditunda 3 bulan. 
Terus, kok bisa ya dalam semalam langsung berubah legowo gitu? Itulah Allah, Dia yang mengatur cerita, dan Dia yang menyelesaikan. Tugas kita hanya bermain peran. Sikap dan penerimaan, memengaruhi beratnya amal. Tentang kesalahanku, kesalahannya, dan kesalahan mereka? Hm, menyesal itu hanya untuk orang yang tidak percaya masa depan. Tapi aku masih percaya masa depan, bersamamu (halah).
Eh, tapi ternyata skenarioNya tidak selesai sampai disitu. Ada kejutan terhebat setelahnya. Postingan selanjutnya ya! (AL)