Label

Jumat, 06 Januari 2017

Observasi (Negeri Tapal Batas)

Buku 'Negeri Tapal Batas'
Buku 'Negeri Tapal Batas'
Satu hal yang paling mengerikan di daerah ini adalah badai di malam hari. Seringkali listrik dipadamkan setiap malam untuk mencegah arus pendek dan kebakaran ketika terjadi hujan deras dan petir Kalimantan yang terkenal dahsyat itu.
Malam itu terjadi pertama kalinya. Listrik padam selama dua jam dari pukul 22.00 WITA. Kami semua menunda rapat dan terlelap setelah sholat tarawih. Bersamaan pula angin yang sangat kencang. Pintu utama rumah kami bukan pintu seperti biasanya. Pintu itu seperti jeruji pagar besi, yang perlu didorong ke samping untuk membukanya. Sehingga bisa dibayangkan betapa dinginnya setiap malam bila ada angin kencang, karena ada bagian yang terbuka di sela-sela jeruji besi itu. Angin kencang malam itu menerobos kuat hingga membuat gorden pink pembatas ruangan perempuan juga bergerak naik. Beberapa perempuan terbangun dengan sigap untuk menahan gorden itu dengan beberapa benda. Angin mulai dibarengi dengan hujan deras yang sangat berisik.
“Ngeri banget.” Satu chat Line masuk di grup.
“Tenang saja. Itu hanya efek seng di atap,” jawab Alfabi, yang rupanya masih terbangun.
Huwaa, tidak bisa tidur,” balas yang lain.
Sesekali petir terdengar menggelegar, membuat kami terbangun spontan. Semua perempuan menghambur keluar, ketika menyadari angin semakin kencang, hujan deras, dan mereka tidak bisa lagi tidur. Rupanya semua laki-laki sedang berjuang keras di depan pintu jeruji besi. Mereka sudah setengah basah memasang sarung masing-masing di pintu, untuk menahan supaya air dan angin tidak banyak masuk. Radius beberapa meter lantai sudah basah. Karpet-karpet lantai pun sudah tidak teratur bentuknya karena diusik oleh angin. Semua sofa sudah basah. Para perempuan hanya membantu sebisanya. Mereka memindahkan meja, menggeser sofa, menutup kembali jendela-jendela, yang lainnya bergidik di pojokan.
Baru beberapa hari di Sebatik. Di malam hari yang berisik oleh hujan besar dan angin kencang, sesekali petir menyambar, kami berjuang dengan sisa-sisa rasa takut hingga tengah malam. Takut, tentu saja. Siapa yang menyangka akan terjadi badai mengerikan di sana. Tapi ternyata, malam-malam seperti itu akan sering kami lalui. 

____________________________________________________________
Baca kisah selengkapnya di buku 'Negeri Tapal Batas'

2 komentar:

  1. Suasana memang begitu mencekam apa hnya ceritanya dibuat seperti mencekam (di lebih lebih kan)?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subjektif penulis (saya) memang begitu

      Hapus