Label

Minggu, 15 November 2015

Niat : Jalani Saja





Banyak pernyataan yang dikeluhkan orang lain, atau bahkan diri kita sendiri sering berpikir tentang pernyataan-pernyataan itu.
“ Niat saya masih belum lurus, nanti dulu sajalah.”
“ Duh, saya memperbaiki niat dulu.”
“ Niat saya sudah melenceng. Bagaimana ya cara meluruskannya?”
Atau barangkali kita pernah mendengar, “ Yuk, luruskan niat dulu, baru kita melanjutkan pekerjaan.” Hm, agak rancu memang. Tapi, begitulah adanya, urusan sekecil niat tapi bisa mendasari seluruh ganjaran amal kita.
Pertama, urusan mana yang lebih dulu. Niat dulu, atau amal dulu? Melakukan amal apapun tanpa niat, terasa hambar dan lama kelamaan akan mudah basi. Berpikir tentang niat dulu baru beramal, pertanyaannya, apa indikator ketulusan niat? Bicara tentang niat yang ‘lurus’, tidak jauh-jauh dari niat yang ‘ikhlas’, ‘tulus’, ‘murni’. Memang susah mendefinisikan makna ikhlas, tulus, dan murni. Tapi secara sederhana membicarakan itu, tengoklah salah satu surat pendek di Al-Quran. Umumnya, nama-nama surat dalam Al-Quran disebutkan dalam salah satu atau beberapa ayat dalam surat tersebut. Tapi khusus surat ini – surat al-ikhlas namanya – memakai kata ‘ikhlas’ dalam nama suratnya, sementara dalam 4 ayat suratnya sama sekali tidak menyebut kata ‘ikhlas’. Nah, silakan diresapi dan memetik kesimpulan masing-masing. Betapa meski ia disebut dalam nama surat, tapi surat Al-ikhlas tak pernah marah bila kata ‘ikhlas’ tak disebut dalam ayatnya.
Barangkali kita merasa jenuh dengan pernyataan-pernyataan itu, entah dari oranglain atau diri kita sendiri. Ingat, bahwa waktu kita lebih sedikit dari pekerjaan-pekerjaan kita. Jika telah habis oleh urusan meluruskan niat, mulai kapan pekerjaan itu akan tersentuh? Kunci utamanya hanya satu, JALANI SAJA. Niat dan amal, keduanya tidak tabu jika berjalan beriringan.
Jika menengok kitab-kitab ulama jaman dahulu, semua bukunya di bab atau pembahasan pertama selalu membicarakan tentang materi niat. Sebelum mempelajari ilmu-ilmu di dalam kitab, sebaiknya kita mempelajari niat. Tapi, bab niat dan bab lain dalam kitab dijadikan dalam satu bentuk buku, bukan buku yang berlainan. Sehingga, sekalipun awalnya belum terlintas niat apapun, JALANI SAJA untuk membuka buku itu. Toh akhirnya bersamaan dengan melakukan pekerjaan ‘membuka buku’, barulah kita menemukan pemahaman tentang niat itu sendiri. Terkadang, niat itu bukan garis start, melainkan sesuatu yang melebur bersama proses itu sendiri. Lalu dimana garis finish? JALANI SAJA dulu, garis itu akan nampak oleh mata yang memandang ke depan.
Karena belajar meluruskan ‘niat’ adalah ‘ilmu’,maka ilmu yang sangat luas ini tidak bisa dipelajari sendiri tanpa menguhubungkan dengan ilmu lain. Karena belajar meluruskan ‘niat’ adalah ‘ilmu’, maka pembelajarannya adalah proses sepanjang masa. Karena belajar meluruskan ‘niat’ adalah ‘ilmu’, maka ilmu harus didatangi dimanapun ia berada. Karena belajar meluruskan ‘niat’ adalah ‘ilmu’, maka mintakanlah ilmu itu pada Sang Pemilik Ilmu.
Kedua, urusan niat yang mulai melenceng, atau memang sejak awal telah melenceng. Jawabannya sama, tetap JALANI SAJA. Niat itu fluktuatif, wajar jika ia bergeser semudah rotasi bumi yang tidak pernah dirasa. Mudah saja naik turun sebagaimana iman kita. Mampu terbolak-balik sebagaimana Allah membolak-balik hati kita. Bersyukurlah bagi yang memiliki kepekaan hati jika terjadi keburaman dalam niat. Setidaknya jika melenceng, dimana kita sedikit berbelok ke jalan yang salah, namun kesadaran itu membuat kita ingat kembali jalan yang lurus. Ketika sudah berbalik dan melihat jalan lurus itu lagi, tidak perlu berpikir panjang bagaimana caranya. Itu seperti seseorang yang tersesat, kemudian berbalik badan dan melihat jalan yang benar, tapi masih bertanya bagaimana cara menuju jalan itu. Mudah saja. Jika memang tersesat dengan kendaraan, cukup putar arah kendaraan lalu menuju jalan itu. Jika bepergian dengan berjalan, cukup putar badan dan arah kaki. Tidak perlu berlama-lama berpikir dan terdiam di tempat itu. JALANI SAJA.(AL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar