Label

Senin, 22 Desember 2014

Ngantuk di Kelas

Gb. Ilustrasi Kelas Asma

Mataku samar-samar memandang ustadz yang sedang mengisi materi malam ini. Hari ini jadwal kuliah dan amanah padat dari jam 7 pagi hingga hampir isya. Belum ada waktu untuk mandi, sekadar mencuci wajah dan makan sebentar, belajar sesuatu yang lain dimulai pukul 8 malam. Kelas dimulai dengan tanda bel tiga kali. Terlambat datang ke kelas, ada iqob. Bermacam-macam, mungkin membuang tong sampah ke luar, merapikan sandal, merapikan tempat cuci dan jemuran, selalu ada pekerjaan. Selalu ada tuntutan pula bagi masing-masing tentang kesadaran diri sendiri, sebelum iqab itu dinggap hutang dan diminta di akherat.

Beberapa detik aku sadar, lalu terbuai lagi dengan kantukku. Suara ustadz pun hanya samar-samar sesekali turun naik frekuensinya. Tak terbayang bagaimana pula naik-turunnya tulisanku di buku catatan. Membosankan, terlebih pelajaran sejarah peradaban islam. Uft, aku selalu tidak suka sejarah.
Aku mencubit punggung tanganku sendiri, merintih perlahan, sakit. Saat itu pula mataku melek, menahan sakit. Entahlah, hingga saat ini pun aku belum menemukan cara ampuh mengusir kantuk ketika kelas. Minum kopi, yang ada lambungku tidak kuat. Ngemut permen, sama sekali tidak berefek. Sebenarnya aku selalu siap cemilan pedas, tapi di kelas tidak boleh makan. Padahal pemandu asrama berkali-kali mengingatkan, bahwa kita harus meniatkan sungguh-sungguh untuk belajar dan tidak mengantuk. Setali tiga uang, motivasi itu masih kalah dengan godaan setan yang menutup mata kami supaya terpejam. Seringkali aku merasa ‘pekewuh’ dengan ustadz yang mengisi materi. Apalagi hijab antara santri dan ustadz memang sengaja dibuat rendah, kira-kira setinggi pinggul. Jadi kami bisa saling bertatap muka. Ketahuan deh, kalo santri ngantuk.

“ Srott!”

Di ambang kesadaran, aku menyempatkan menoleh pada teman yang duduk di sebelahku. Mataku terbelalak melihat aksi kedua temanku. Salah seorang membuka mata lebar, seorang lagi memfokuskan semprotan burung di depan matanya. Srott! Semprotan itu tepat mengenai sepasang mata.

“ Eh, kalian ngapain?” tanyaku sambil berbisik, heran.

“ Biar nggak ngantuk,” jawab Feti, wajahnya basah oleh air di dalam semprotan itu.

“ Itu isinya apa? Pelicin setrika?” tanyaku.

“ Ya nggak mungkinlah, ini air biasa.”

Tawaku menyembur, saking tak kuatnya menahan. Beberapa santri menoleh. Awas dengan keadaan sekitar dan sekilas menangkap kalimat ceramah ustad. Astaghfirullah, ustad sedang menyampaikan kisah penyiksaan para sahabat di awal kedatangan wahyu Rasul. (AL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar