Label

Kamis, 25 Desember 2014

Mari Berbicara Tentang Toleransi



Ilustrasi oleh Kurnia Istiqomah

Topik ini belum sampai tahap penyelesaian, belum juga berganti bab.  Bahkan seperti rekaman yang diputar berulang kali di bulan Desember tanpa adanya konklusi.  Sebab pemahaman yang berbeda atas dalil-dalil yang ada akan membawa pada sikap yang beraneka rupa. Tak Jauh berbeda dengan Desember tahun sebelumnya,  adakah toleransi dalam memberikan ucapan Natal?

Sangatlah perlu kita menyamakan persepsi mengenai toleransi itu sendiri. Apabila kita mengutip KBBI, maka akan kita temukan bahwa toleransi berasal dari kata “toleran” (Inggris: tolerance; Arab: tasamuh) yang berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Secara etimologi, toleransi adalah kesabaran, ketahanan emosional, dan kelapangan dada. Sedangkan menurut istilah (terminology), toleransi yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya. 

Toleransi memang ‘kebolehan’. Tidak ada yang bisa menjamin ada atau tidaknya pahala dan dosa pada hukum mubah (boleh), ditambah lagi adanya perbedaan pendapat oleh orang-orang berilmu yang insya Allah untuk menemukan kebenaran itu membutuhkan pemahaman dan kerja keras.

 Seperti Ust. Yusuf Qardawy, Dewan Fatwa Ulama Eropa, yang mengeluarkan fatwa bolehnya mengucapkan ‘Selamat Natal’. Namun fatwa ini berlaku di Eropa yang jelas berbeda kondisi dengan Indonesia. Beliau mendasari hukum “jika…., maka.” Sebab di Eropa, percaya Tuhan atau tidak, percaya Natal atau tidak, ucapan itu hanya sebagai kultur biasa.

Sementara di Indonesia, sepertinya ada atau tidaknya ucapan Natal tidak lantas merusak keutuhan bangsa. Sebab toleransi dalam urusan apapun, pada konteks ini urusan agama, selalu ada sekat pada halal dan haram. Masing-masing agama sudah pasti mengajarkan umatnya untuk bertoleransi dengan umat lain, disebabkan heterogenitas elemen di Indonesia.

Banyak sekali kalimat tanya, “Memangnya kenapa dengan kalimat ‘Selamat Natal’? Bukankah itu hanya kalimat saja, kan bukan berarti ikut percaya agamanya”. Sekarang, mari lihat cerminan pertanyaan itu. Karena masalah aqidah membutuhkan pemaparan yang panjang lebar. “Memangnya kenapa kalau tidak mengucapkan? Apakah segala ikatan akan rusak hanya karena urusan kalimat?” Jika ada fatwa bahwa halalnya ucapan itu demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, (ehm), memangnya harga kemerdekaan bisa ditukar dengan kalimat ‘Selamat Natal’?

Dalam akun twitter, Ustad Yusuf Mansur membuat simile kasus ini seperti kisah kambing dan sapi. Keduanya nyaman ada di rumput yang sama, makanan yang sejenis, tanpa perlu berebut. Toleransi yang sederhana tanpa diputar-putar maknanya. Bayangkan jika toleransi mereka berupa penyamaan suara, sapi berkata, “Mbeeeek!”. Perlu diragukan. Itu sungguhan kambing, atau sapi jadi-jadian? 

Cukup berkata, “Maaf, agama saya melarang ini.” Selesai, titik. Atau lebih molek hanya mengucap kalimat yang netral, seperti “ Selamat liburan! Have a good time!” Jika toleransi keduanya memang benar adanya, antar pihak tidak akan mempermasalahkan dalil agama.

Perlu pembedaan jelas antara tradisi agama masing-masing. Sebab kita tidak pernah tahu, bagaimana esensi ucapan itu pada umat yang merayakan Natal. Jika ucapan itu dianggap bahwa kita ikut merayakannya, nah, ini masalahnya. Jelas urusan agama dan perayaan memiliki sekat yang membedakan.

Seperti kambing dan sapi, banyak jalan untuk hidup bertoleransi dalam agama. Hidup saling bersisian, peduli, penuh kasih sayang, saling menolong, tidak mengusik ketika umat lain beribadah, justru itulah toleransi yang lebih real dari sekadar ucapan. Selama tidak mendatangkan kerugian (mudharat) yang lebih besar, menjauhi sesuatu yang meragukan jauh akan menghasilkan buah yang lebih ranum. Wallahu a’lam bis showab. (AL)


#





Tidak ada komentar:

Posting Komentar