Label

Rabu, 06 Agustus 2014

Sholat Nunggu Niat?

Hari itu, aku hanya berdiri memandangi sebuah gundukan tanah yang tidak terawat. Ummi, kakek, dan sodaraku tertunduk berdoa dalam hati. Beberapa menit, kemudian menaburkan bunga tujuh warna. Aku masih terdiam, berpikir.

Jasad yang pernah menjadi nenekku, di bawah tanah sana. Nenekku yang kata orang cantik, 10 tahun lalu meninggal. Dan ini baru kali pertama aku berziarah ke makam beliau. Seingatku, nenek itu baik dan sayang sama aku. Tapi..., aku tidak tahu mesti berdoa apa. Ya Allah, aku ingat sekali. Idul Fitri katika nenek masih hidup, aku bertanya pada ummi, kenapa nenek tidak sholat. Hingga aku sudah cukup bisa berpikir, kenapa pula di desaku itu tidak pernah terdengar adzan. Memang tidak ada yang sholat fardhu - barangkali hanya sebagian kecil. Sholat hanya ramai ketika lebaran.

Lalu, aku harus berdoa bagaimana? Bahkan ketika meninggal nenek tidak disholatkan, karena memang tidak pernah sholat. Apakah doa seorang cucu sepertiku bisa mengurangi beban siksaannya di sana?

Masih ada seorang berusia 80 tahunan, adik dari buyutku yang hingga kini masih diberi kesempatan menghirup napas dan berjalan di atas bumiNya. Aku pernah mendengar ummi menyuruh beliau sholat. Apa jawabnya? " Kamu ini gimana tho, nyuruh orangtua sholat, kalo apa itu namanya, rukuk? Kalo rukuk langsung jatuh gimana, terus mati? Mau tanggung jawab? Sujud aja encok sakit ini!" Aku hanya bisa tertawa ketika itu, belum mengerti.

Bahkan hingga Lebaran ini, mukena dan sajadah memang hanya untuk Lebaran. Meski alhamdulillaah, beberapa pemuda yang pernah merantau di luar desa, sudah mulai menyadari kewajibannya untuk ibadah. Adzan dari sebuah mushola kecil di pinggir sungai - yang ketika hujan deras, uapan air sungai akan menggenangi mushola - meski hanya adzan maghrib dan isya.

Hingga di sebuah ruangan kamar milik kakek di desa, aku hanya mendengarkan percakapan mereka.  Ketika seseorang yang lebih muda bertanya pada yang lebih tua, " Dhe, mboten sholat?"
Dan yang lainnya hanya menimpali, " Ah. yo biarin. Kalo belum ada niat juga nggak bisa dipaksa. Kalo ddipaksa sholat nggak niat juga nggak dapet apa-apa."

Aku merenung, masih dalam duduk sholatku seusai dzikir. Benarkah pikiran itu? Sungguh aku ingin tahu. Jika mereka beribadah menunggu niat untuk ibadah, memang benar, segala ibadah harus dengan niat karena Allah. Tapi, untuk hati dan jiwa yang tak pernah mengenal Allah, bagaimana niat itu akan hadir? Sampai kapan mereka akan menunggu hadirnya niat itu? Dan bagaimana menghadirkan niat itu? Padahal mereka sudah menelan getir hidup yang cukup susah di desa ini, selama puluhan tahun. Tak cukupkah segala kesusahan hidup mengingatkannya pada sesuatu yang Maha di sana?

Bahkan ketika Rasulullah saw. menyuruh keluarga Ali untuk bangun menunaikan sholat tahajud, mereka menjawab " Jiwa kami ada di genggaman tangan Allah. Jika Dia menghendaki, maka kami akan bangun dan sholat." Kemudian apa jawab Rasul? " Dan manusia adalah makhluk yang banyak membantah."

Entahlah. Kenyataannya sejak kecil, ketika aku belum mengerti kenapa keluarga dari ummiku tidak sholat, hingga aku sudah sebesar ini, aku hanya bisa diam. Aku belum cukup mengerti tentang tarbiyah itu. Ampuni aku, ya Allah. Beri aku kesempatan suatu hari nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar