Label

Kamis, 15 Mei 2014

Tak Teraba





Sebuah kaki mengetuk lantai beberapa kali dengan frekuensi lama. Mereka terdiam beberapa menit. Hingga pemilik kaki merasa jenuh. Memandang sebal cowok jangkung yang duduk di batu besar taman itu.
Kakinya menoleh, hendak berbalik. Diikuti badannya yang mungil.
“ Hey, mau nikah nggak sama aku?” kata Rei, cowok berkulit putih dengan mata sipit, nada sedikit meninggi.
Ekspresi yang tidak akan pernah Rei lihat. Mata bulat Sire semakin membulat, bibir tipisnya terbuka, jantung berdegup. Tapi pikiran rasional gadis itu mengubah segalanya.
“ Kamu ngomong apa?” tanya Sire
“ Aku yakin kamu udah denger tadi,” kata Rei sambil berdiri dari duduknya, mendekat.
Sire memandang wajah teduh tapi menyebalkan itu. Bibir Rei bergerak mengunyah permen karet. “ Kamu serius?”
“ Kamu pernah lihat aku main-main tentang hati?”
“ Tapi..,apa kamu nggak bisa menyusun kalimat dengan baik? Kamu nggak tau gimana adab bicara sama cewek? Apalagi kalimat lamaran kayak gitu, nggak etis.”
Mata Rei semakin memandang tajam. “ Sejak kapan ada hukum etis lamaran? Yang pasti aku nggak akan mengulang dua kali.”
Gadis itu tertawa mengejek. “ Siapa juga yang mau dilamar dengan cara kayak gini, ekspresi menakutkan, datar, nggak romantis, dan…”
“ Oke fine,” katanya sambil meludahkan permen karet. “ Itu aku anggap penolakan.” Tubuhnya berbalik, berjalan cool, meninggalkan seorang berwajah masam dan kesal.
Sire marah, mengira bahwa Rei tidak serius. Padahal dalam ruang hatinya, ia sangat menunggu kalimat itu terucap, ia akan berkata ‘ya’. Tapi perempuan mana yang bisa terima ini.
 Ia berbalik, berjalan pelan dengan wajah memerah menahan air mata. Ia sangat mengenal Rei, cowok pujaan hati sejak SMA yang bertahun-tahun  menggantungkan hati semua gadis, termasuk dirinya. Ia sangat mengenal Rei, cowok setia yang begitu menjaga hati perempuan. Ia sangat mengenal Rei, meskipun selalu datar dan sinis, tapi itu hanya topeng atas karakter hangatnya. Ia sangat mengenal Rei, yang tidak pernah bisa terlihat untuk siapa hati itu, tidak pernah berkata cinta pada perempuan. Sahabatnya itu, pertama kalinya langsung mengajukan lamaran padanya, pada Sire. Sire yang memendam selama tujuh tahun.
“ Rei, kembali dan katakan itu lagi. Kembali. Kau nggak sedang mempermainkan aku,” bisik Sire, pelan.
Beberapa menit ia masih di sana. Telinganya awas mendengarkan langkah kaki milik Rei mendekat. Tapi itu tidak akan terjadi. Karna beberapa meter darinya, cowok itu duduk di atas motor Vixion hitam, kepalanya tersandar pada stang, tangannya mengepal. Hingga sengaja membanting helm, berteriak.
“ Bodoh! Bodoh!”
Dua hati yang tidak teraba.
***
Mata bulatnya memandang langit dari balik jendela kaca. Tangannya meminang-minang sebuah cincin. Pikirannya buyar, bukan pada objek di hadapannya. Sempat terkejut mendengar pintu terbuka. Cincin itu jatuh, menggelinding di bawah kaki Lail.
Gadis berambut keriting itu memungutnya. “ Jadi keputusanmu?”
Sire mengangkat bahu, kembali memandang langit.
“ Kamu kenapa sih, Re. Udah jelas Rei cuma mempermainkanmu, ngapain masih berharap? Di depan kamu sudah ada cowok sempurna bin idaman, malah dicuekin.”
Aku mendesah, butiran uap air membekas di kaca jendela. “ Andai kamu mengerti.”
“ Aku ngerti. Aku juga teman Rei, you know. Dan dia nggak cukup baik buat kamu,” kata Lail tegas. “ Ya dia baik sih, cool, tampan, tapi misterius banget. Siapa yang bisa jamin dia nggak mempermainkanmu?”
“ Kita udah deket sejak SMA, gimana mungkin dia tega? Aku sedang berpikir, barangkali dia nggak bisa menyampaikan itu dengan baik. Entah hanya harapan atau memang realita, aku juga merasa Rei punya rasa, karna dia peduli sama aku.”
“ Ya dia peduli karna kalian bersahabat sejak SMA.”
Sire mendesah lagi. Pikirannya seperti terbelah dua. Bermusuhan. Namun ia tidak bisa membedakan mana harapan dan realita. Reski, kakak angkatan di kampus, melamar Sire jauh hari sebelum Rei. Sebelum Rei melamar? Apakah itu bisa dikatakan lamaran?
“ Tapi aku  mau Rei,” bisik Sire. Lail hanya memandang sedih. Memandang pada mata mengkilap yang tersembunyi. Tetap rasa itu tak teraba.
Kalimat yang berulang kali mengusik hati Sire. Tapi aku hanya mau Rei.
Sire dan Rei, dua sejoli yang saling kenal sejak SMA. Teman sekelas selama tiga tahun. Masih dalam satu fakultas namun berbeda jurusan di sebuah universitas impian mereka, janji kuliah di kampus yang sama. Saat SMA mereka berlima, dengan tiga teman yang masing-masing berpencar di universitas berbeda. Hanya mereka berdua. Sifat bertolak belakang, sering berdebat dan bertengkar, namun janji-janji dan impian terwujud bagai sifat enzim Lock and Key, melengkapi. Sire yang ramah dan cerewet sangat berbeda dengan sisi Rei yang cuek dan pendiam. Sire selalu terbuka, namun Rei jarang berbagi tentang cerita hidupnya. Hanya ada satu hal yang tertutup dalam diri Sire, tentang perasaannya, tak teraba. Dan hanya satu hal yang terbuka dari Rei, ia selalu mengatakan, “ Aku hanya ingin mencintai satu cewek, dan hanya ingin menikah dengannya.”
Sire suka melukis, menggambar kartun dan animasi. Sedangkan Rei ahli bidang IT dan desain. Semua karya tangan Sire, Rei-lah yang membuatnya dalam bentuk digital. Impian terbesar mereka, hendak duet menulis dongeng modern dengan gambar animasi yang menarik.
Kini keduanya berjauhan. Mereka sudah lulus, sedang berusaha mencari pekerjaan. Namun tidak ada lagi saling kontak. Tidak ada lagi yang mengingatkan tentang janji impian terbesar mereka.
Satu bulan berlalu, Sire masih menggantungkan Reski. Dan Rei? Tak ada yang tahu, setiap hari ia menulis surat untuk Sire. Surat tak tersampaikan. Surat yang selalu terbuang di keranjang sampah kamarnya. Surat lamaran. Pengakuan diri Rei. Setiap hari menulis kalimat yang dirasa akan disukai Sire. Namun ia selalu merasa gagal menulis kalimat romantis, dibuanglah surat itu. Malam selanjutnya selalu begitu. Dengan segenap kekuatan menahan kepasrahan hati. Karena sejak dulu ia tahu, Sire sudah dilamar Reski.
***
Langkah Sire terhenti. Ia ragu. Sebenarnya ia ingin memulai hubungan baik, dia hanya ingin Rei. Kali ini ia melihat Rei ada di dalam toko emas. Tangan Sire memegang sebuah map berisi berkas lamaran pekerjaan. Sudah seharian ia berjalan menyusuri kota, masuk ke kantor berbeda-beda. Sire berdiri dengan sabar di samping tiang lampu jalan.
Matanya sedikit membulat. “ Tunggu. Kenapa Rei ada di toko emas ya?” Kepalanya menoleh, melihat jemari Rei yang menautkan sebuah cincin di jemari lain miliknya.
Rupanya mata awas Rei menangkap sosok Sire yang sedang mengamatinya. Ia segera menyelesaikan transaksi dan keluar menemui Sire, masih dengan wajah datar.
Sire terkesiap, memaksa senyum ramah, seakan tidak pernah terjadi hari buruk itu. “ Hai Rei, kebetulan tadi aku lewat sini terus liat kamu ada di dalam. Yaudah, aku tungguin aja. Apa kabar?”
Rei masih datar. “ Baik. Kamu?”
“ Aku capek banget. Nih masih muter-muter masukin berkas. Kamu nggak mau traktir aku minum es gitu, panas banget nih. Ayolah, kita kan lama nggak berjumpa. Traktir aku ya!” seru Sire, menggoyangkan lengan cowok itu, seperti anak kecil yang menarik-narik baju ayahnya ketika meminta sesuatu.
Akhirnya Rei mengangguk, berjalan mendahului Sire menuju seberang jalan. Sebuah warung kecil es kelapa muda.
“ Kemarin udah wawancara.”
Rei selalu menjawab singkat rentetan pertanyaan Sire. Sudah biasa. Selalu begitu. Hingga tidak ada yang bisa membedakan bagaimana ekspresi Rei saat bahagia, sedih, kecewa, malu. Ekspresi wajahnya selalu sama, datar. Ia seperti tubuh di balik dinding tebal, tak terlihat dan tak teraba, hanya terdengar.
“ Doakan aku ya Rei, diterima di perusahaan itu. Aku pasti doain kamu kok. Apalagi kantor tempat kamu melamar itu sesuai banget sama passion kamu, yang jago desain sama komputer gitu. Aku dukung kamu banget,” kata Sire sambil sesekali menyeruput air kelapa. “ Oh iya, tadi kamu ngapain ke toko emas itu, Rei?”
“ Beli cincin.”
“ Cincin apa?”
“ Pernikahan.”
“ Ooh, tapi kok…, maksudnya siapa yang mau nikah?”
Tenggorokan Rei sakit meski sekedar mengulum air kelapa. Tidak tega. Tapi harus. “ Aku sudah menemukan seseorang yang baik untukku.”
Mematung. Sire berharap ada kalimat lanjutan, bahwa seseorang yang baik itu adalah dirinya. Berharap kali ini Rei sungguh melamar dirinya. Beberapa menit terdiam.
“ Maksudnya siapa orang itu?” tanya Sire, memancing.
“ Aku suka jika undangan pernikahanku tulisannya R&R.” Napas Sire tercekat dengan kalimat itu. Jelas bukan dirinya. “ Namanya Rima, teman adikku. Dia baik, cantik, ceria dan cerewet kayak kamu.”
Kali ini napas Sire terhenti, beberapa saat. Wajahnya menunduk, sebutir air mata membekas di kain roknya. Rei tidak tahu.
“ Tapi kalo undangan pernikahanmu tulisannya R&S juga bagus kok, Reski dan Sire. Aku bisa bantu desain undanganmu.”
Suara datar itu, semakin menyakitkan. Menyakitkan untuk keduanya.
Sire menangkupkan hp di telinganya.  “ Iya, Pak? Iya benar. Alhamdulillah, jadi saya diterima? Sekarang harus ke sana, Pak? Lima menit? Baik, saya segera ke sana. Rei maaf aku ada panggilan kerja awal. Dah. Iya Pak sebentar.”
Tanpa memandang mata berkaca milik Rei, gadis itu segera berlalu. Rei tahu, amat sangat tahu. Hp itu, tidak ada suara apapun di seberang. Sire bermain drama.
Memang benar. Sire berlari. Menangkupkan tangannya pada bibirnya. Terpecah sudah tangisan histerinya di pinggir jembatan. Di trotoar jalan untuk kendaraan berkecepatan tinggi. Tidak ada yang menggubrisnya. Terisak sendiri semakin dalam.
Sementara Rei melaju di atas motornya tanpa fokus pada jalan. Maskernya basah. Tanpa terisak. Ima, adiknya, sudah menunggu di depan pintu rumah dengan wajah tersenyum bahagia, menyambut.
Setelah turun dari motor tanpa melepas masker, Rei merogoh saku celananya.
“ Beneran sudah pas kan sama jari mas Rei? Yah semoga aja pas juga di jari calon suamiku. Doakan ya Mas,” kata Ima ceria.
“ Pasti. Dia laki-laki yang baik. Semangat!” seru Rei, lalu berlalu, meninggalkan ekspresi curiga di wajah adiknya.
“ Mas Rei kenapa? Kok matanya merah?”
“ Kena debu.”
***
Kakinya tertatih berjalan menuju ruang itu. Ekspresinya sudah ia kendalikan. Masih ada sembab di matanya, tapi ekspresi wajah ceria bisa menutupinya. Seorang perempuan cantik dan anggun menyambutnya.
“ Eh mbak Sire, apa kabar? Mau ketemu pak Reski ya?”
“ Iya, Mas Reski ada di ruangan kan? Apa dia lagi sibuk?”
“ Ah, sesibuk apapun pak Reski dia pasti mau meluangkan waktu buat tamu spesial seperti Mbak. Mari, saya antar.”
Sire mengikuti sekretaris itu, masuk ke sebuah ruangan besar.
“ Permisi, Pak Reski, ada tamu spesial.”
Laki-laki itu memutar kursinya. Segera berdiri begitu melihat Sire, membenahi letak kaca matanya. Sire tersenyum lebar. Kini hanya mereka berdua setelah sekretaris itu pergi. Sire memandang lekat. Laki-laki cerdas saat kuliah dulu, selalu aktif di organisasi manapun, berpikir kritis dan selalu ramah, hari itu mengajak Sire bertemu dan mengungkapkan lamaran dengan santun. Sire telah membuatnya menunggu lama. Ketika Reski sudah wisuda dan langsung mengutarakan perasaan, Sire menolak dengan alasan ingin fokus kuliah. Dan ketika Sire sudah wisuda, ia menggantungkan cukup lama.
Sire masih tersenyum lebar, menunjukkan punggung tangan kirinya. Di jari manisnya tersangkut sebuah cincin. Cincin pemberian Reski.
Reski tersenyum bahagia, mengusap wajahnya yang memerah. Keduanya berpelukan.
Selesai

Jangan lupa juga, beli bukunya yaa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar