Label

Minggu, 25 Mei 2014

Pengecoran Logam



Ada banyak kisah menarik dalam praktikum TKG 2 (Teknologi Kedokteran Gigi 2) di semester ini. Ada 3 bab yang harus diselesaikan, sebelumnya pembuatan plat dasar gigi tiruan dengan dua metode dan terakhir pengecoran logam gigi. Dan praktikum bab terakhir itulah yang mungkin paling berkesan.

Seperti bab sebelumnya, praktikum ini melalui beberapa tahapan. Jika sudah gagal di salah satu tahap, ya konsekuensinya mengulang tahapan dari awal.  Jadi ada berapa tahapan sih?
1.      Menempel malam pada gigi yang akan dibuat logam. Menggunakan malam inlay, berwarna ungu, mudah cair, dan berbau. Aku suka malam berwarna ungu ini.
2.      Mengukir malam itu menyerupai bentuk anatomis gigi, agak susah sih.
3.      Membuat sprue pin dan reservoir. Reservoir ini dari malam  merah yang ditempelkan pada ujung casting ring. Apa casting ring? Bentuk pipa berukuran diameter 2,5 cm dan tinggi 3,5 cm. ini nih gambarnya casting ring. Sudah jelek sih.

4.      Mengisi gips pada casting ring itu, kali ini menggunakan gips yang berwarna merah muda, lunak.
5.      Pre heating, wax elimination, dan heating. Tahapan ini menggunakan anglo/tungku yang diisi arang. Jadi untuk tetap menyalakan bara apinya, menggunakan tenaga manusia, harus terus mengipasi. Atau ada pula yang kreatif memakai kipas angin (heheheh)
6.      Pengecoran logam menggunakan alat yang di kampus Cuma ada satu.
7.      Deflasking, atau memecah gips supaya bisa mengambil hasil coran gigi
8.      Dan ini dia hasilku, setelah di polish dengan berbagai macam bur.



Gb. gigi geraham posterior


Hmm, jelek sih. Tapi wajarlah, kan baru pertama kali.

Yaah, memang susah dijelaskan dengan teori sih. Tapi itu gambaran secara umum. Kembali lagi, ada banyak kisah. Betapa banyak orang gagal dalam praktikum ini. Berapa pula orang yang menangis dan frustasi. Apa masalahnya? Masalahnya adalah alatnya Cuma satu, sehingga untuk mengecor harus rela antre dengan sekitar 150 mahasiswa, dan harus rela pulang tengah malam karena terlalu sering gagal. Kedua, ketika gagal di salah satu tahapan, harus mengulang dari awal. Yang itu berarti butuh pula material, gips, logam ( yang harganya nggak murah ya), malam, dll. Itu dia masalahnya…


Ada seorang temanku, dia sudah mengulang dua kali. Hasil pertamanya sudah sapai tahap akhir, namun ternyata logam yang dicor tidak berbentuk gigi. Hasil keduanya, setelah keluar di tungku dan masih panas, dia tidak sengaja memegang, terlempar, dan pecah gipsnya. Frustasi? Pastinya. Menangis? Wajar sih. Banyak teman yang berusaha membantu dan menghibur. Berapa banyak yang menangis malam itu, sayangnya aku tidak menghitung.

Ada pula, yang begitu mengharapkan kelahiran gigi logam itu, saat mereka meecah gips. Benar-benar layaknya ibu yang mengharap kelahiran anaknya. Ada beberapa pula yang lantas memberi nama pada gigi itu setelah lahir. Hahaha, lucu juga.

Dan hari itu, 13 mei, pertama kalinya aku masih mengendarai motor di jalan Jogja, pukul 11 malam. Untung Jogja masih rame jam segitu. Untung pula kegagalanku masih di tahap awal, saat pengisian gips yang terlalu encer, jadi mengulang hanya beberapa tahap. dan tidak perlu mengantre sampe tengah malam. Banyak lho yang jam 1 baru pulang.

Sebenarnya ada banyak pelajaran dari praktikum itu. Kerjasama dan saling membantu, itu pasti. Ketika beberapa teman sudah selesai, mereka rela membelikan titipan makanan bagi mereka yang belum selesai. Apalagi hari selasa, kuliah pagi jam 7, dilanjutkan dua praktikum beruntun sampai sore, pasti banyak yang belum makan siang atau seharian belum makan. Atau ada yang gagal, maka yang lain saling membantu dan menopang.

Kedua, aku banyak menemukan orang-orang yang memiliki wahn (cinta dunia). Sebenarnya gagal hanya masalah sederhana, toh bisa dilanjut besok. Rasa sedih berlebihan, itu tidak boleh. Apalagi, praktikum sampai malem, melupakan sholat isya’, tidak sempat sholat maghrib ( wah parah banget). Emang sih pekerjaannya harus ditunggu, apalagi kalo lagi di depan tungku, harus dijaga. Tapi kan…, ehm, tapi Allah itu lebih penting.

Ya begitulah, percuma sedih, menyesal, frustasi, berusaha semaksimal mungkin, tapi usaha itu tidak dipasrahkan ke Allah. Ingat ya, “  Ikhtiar seorang muslim itu bukan pada usahanya, melainkan pada Allah. Sedangkan ikhtiar orng kafir itu pada usahanya.”

Dan yang terakhir, di sela-sela aku menunggu antrean selama 2,5 jam, iseng membuat sesuatu dari sisa gips milik teman. ini diaa..
Sebenernya tidak penting sih, hanya mengisi waktu luang dan kebosanan aja, di sela-sela belajar buat praktikum esoknya. Aku juga bingung, kenapa mesti bentuk hati ya? Emang di dunia ini tidak ada bentuk lain selain hati? Entahlah, abaikan jika tidak penting.
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar