Label

Senin, 26 Mei 2014

Pemimpin Cerminan Diri Rakyat





Jumat, 4 April 2014 Kammus menggelar acara Kantin (Kajian Rutin) di halaman rumput mushola Al-Ikhsan FKG UGM. Kajian yang digelar rutin setiap dua pekan pukul 16.00 WIB kali ini dihadiri sekitar 30 mahasiswa FKG UGM. Mengangkat tema ‘Cerdas Memilih untuk Indonesia’, dr.Raehanul Bahraen selaku pembicara menjelaskan secara terbuka bagaimana menanggapi demokrasi pemilu dan memilih pemimpin yang baik.
dr. Bahraen mengungkapkan, bahwa demokrasi hukum asalnya adalah haram. “ Profesor nyoblos dibandingkan dengan dua orang yang baru aja keluar dari rumah sakit jiwa nih, tetap yang menang adalah suara dua orang yang keluar dari rumah sakit jiwa. Begitulah demokrasi. Tapi Islam itu tidak kaku. Kalo memang harus memilih, pilihlah yang terbaik, yang minimal dia beriman dan sholat.”
            Dosen FK Universitas Mataram itu juga menyampaikan pesan dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka.”
            Pemimpin adalah cerminan diri rakyat, begitulah yang sering terulang dalam kalimat dr. Raehanul Bahraen. Sehingga jangan hanya fokus menuntut pemimpin sempurna yang harus begini begitu, tapi juga harus berpikir bagaimana memperbaiki rakyat dan masyarakat.
            Beliau juga mengungkapkan, seorang pemimpin yang baik belum tentu rakyatnya juga baik. Jaman dahulu Bani Israil adalah kaum yang dipimpin oleh para nabi, diantaranya nabi Musa as., nabi Harun as., dan nabi Sulaiman as. Namun perilaku mereka mendatangkan laknat Allah bahkan ada yang dikutuk menjadi kera. Sehingga hancurnya rakyat belum tentu disebabkan oleh pemimpin. Namun pemimpin adalah cerminan diri rakyat. Sehingga lebih baik kita fokus memperbaiki diri sandiri dan masyarakat terlebih dahulu.
            Jika harus mengubah negara, kita memang harus menguasai konstitusi. Dan untuk mengubah negara menjadi islam, maka harus menguasai konstitusi pula. Namun untuk melakukan itu di negara itu butuh proses lama dan sulit. dr. Bahraen kembali mengingkatkan bahwa kita harus memperbaiki rakyat terlebih dahulu. Beliau bercerita tentang kisah Najashi, raja Etiopia. Ketika menjadi raja di negara itu, Najashi justru menyembunyikan keislamannya.
            “ Jangan fokus mengisi parlemen dengan orang islam, siap nggak rakyatnya?” kata dr. Bahraen. Beliau menjelaskan bahwa masalah di negara Indonesia itu banyak, jadi jangan hanya fokus memasukkan orang islam di parlemen lalu mengubah menjadi negara islam. Sebelum mengarah ke jauh, lebih baik memperbaiki hal-hal sederhana rakyat, misalnya menyembah kubur sebagai perbuatan syirik, berzina, memakan harta rakyat, dan sebagainya. Bahkan kepemimpinan Rasulullah saw. selama 10 tahun hanya memperbaiki keimanan umatnya.
            So, gunakan hak pilihmu dengan baik. Jadilah rakyat yang memenuhi hak Allah, insya Allah, Dia akan memberikan pemimpin yang baik untuk kita.Wallaahu a’lam. (AL)
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar