Label

Sabtu, 23 November 2013

RAINBOWNiSTAR of LOVE





RAINBOWNiSTAR of LOVE
(Karya: ALYA NUR FADHILAH)

(Kamis,26/04)
Polisi kembali kehilangan jejak FPT (Federasi Pembasmi Teroris) yang menjalankan aksinya kemarin, 25 April 2012 di salah satu apartemen yang pemiliknya ditemukan sudah tergantung. Kelompok organisasi ilegal itu nampaknya sudah dilatih penuh untuk mensukseskan misinya, yakni membunuh secara tidak hukum anggota teroris, bahkan tanpa ditemukan jejak sedikitpun. Tidak ada yang salah dari sebuah misi mengentaskan terorisme, namun sikap dan cara yang tidak kemanusiaan menjadikan mereka terperangkap dalam buronan seluruh kepolisian daerah.
***
Sesekali rintik-rintik hujan mengguyur malam pekat berbulan separuh pisang. Hawa dingin nan syahdu agaknya tidak tepat ada sebuah adegan di sebuah jalan kecil daerah persawahan.
Dengan menarik gas penuh sementara mata sipitnya menajam menembus kabut dan aliran gerimis, di belakangnya disusul tiga motor dengan pengendara serba hitam. Ia semakin menekankan gasnya, hingga roda melaju dengan kecepatan di luar semestinya.
Hawa dingin semakin menusuk-nusuk tubuhnya yang hanya berkemeja panjang – tidak berjaket tebal. Bila saja mereka adalah para ghost rider, akan terbentuk api yang saling menyusul. Hingga salah satu pengendara berpakaian serba hitam berhasil mensejajarinya dan tanpa babibu menendang tubuh kedinginan itu.
SREETTT!!! BLAK!
“ Agaknya kita bisa membunuhnya sekarang juga!”
“ Kamu yakin, dia seorang teroris??” Sebuah suara perempuan menengahi.
Samar-samar, cowok yang kini menggelepar lemah masih bisa mendengar suara percakapan itu.
“ Hey, toloong! Ada yang kecelakaan! Di sana!”
“ Gawat! Ayo kita pergi!”
***
Goresan kuas yang menampilkan warna lamat-lamat secara perlahan mulai menghapus warna putih. Tangannya yang kekar, kini hanya mampu sekedar menggoreskan seni yang ada dalam otaknya. Dan semua itu, semua yang ada dalam pikiran dan hatinya sekalipun, tak pernah bisa terungkap dengan sebuah suara.
Tiba-tiba tangannya menyenggol sebotol cat warna dan membuatnya menggelinding harmonik hingga di bawah sebuah kaki bersandal warna pelangi. Cewek itu berjongkok mengambil botol. Membiarkan rambut lurusnya jatuh tergerai ke pipinya.
“ Ini punyamu?” tanya cewek itu, tersenyum manis.
Aldi hanya memandang takjub pada gadis itu. Pada mata tajamnya di balik lensa kaca mata. Pada tas berwarna pelangi. Pada anting-anting bermanik lingkaran dengan warna pelangi pula. Dan semua itu mengingatkannya akan seseorang.
“ Namaku Pelangi. Kamu?”
Aldi hanya menyambut uluran tangan itu dan langsung menuliskan sesuatu di kertas.
“ Ooh, nama kamu Aldi? Senang berkenalan denganmu. Tapi, kamu sendiri di sini?”
Aldi kembali menuliskan sesuatu. Iya, aku sedang sendiri. Tapi jika aku butuh teman, aku bisa sms adikku.
“Ooh, boleh aku menemanimu di sini? Kebetulan aku lagi butuh temen. Nanti kalo kamu mau pulang, aku juga bisa nganter kok. Rumah kamu nggak jauh dari sini, kan?”
Aldi menyipitkan matanya - membuatnya semakin sipit. Seakan bertanya, “Bagaimana kamu tahu?”
“ Oh, tentu saja aku tahu. Aku sering melihatmu di taman ini, dan aku juga pernah liat kamu sama adikmu itu keluar dari rumah. Cuma kebetulan.”
Gadis itu duduk di bangku di samping kursi roda Aldi. Ia tersenyum sambil mengamati hasil lukisan cowok manis di sampingnya itu.
“ Lukisanmu bagus banget. Kamu hebat deh,” puji Pelangi.
Matahari mulai menyingsing hingga ke barat, membiarkan mereka berdua tenggelam – seperti dirinya yang berganti malam – dalam keasyikan. Aldi merasa, ia sudah sangat mengenal lama pribadi gadis itu. Dan jauh dalam lubuk hati yang terdalam, gadis itupun merasakannya. Namun dalamnya sebuah niat atas misi itu, lebih mampu menutupi apa yang masih bisa dikata perasaan.
***
“ Hai, Rindu!”
“ Mbak Pelangi?? Itu mas Aldi lagi di ruang tengah.”
Sejenak tangan Adi berhenti saat matanya menangkap sosok gadis yang tersenyum ceria menghampirinya. Kini ia mengenakan rok berwarna-warni – seperti pelangi.
Pelangi mengamati lukisan di hadapan Aldi. Sebuah bebek boot di atas air, dan dua bocah kecil menaiki bebek boot itu. Alam bawah sadarnya bergejolak, meminta dirinya segera bangun dan mengaktifkan kembali memori itu. Tapi itu dirasa tidak perlu untuk menjalankan misinya.
Aldi mengibaskan tangannya, membuat Pelangi tersadar.
“ Eh, maaf. Ehm, lukisanmu yang ini bagus kok.” Pelangi berjalan mengelilingi ruangan yang semua sisinya terpajang lukisan hasil karya Aldi. “ Al, gimana kalo kamu buat pameran lukisan aja. Daripada lukisanmu cuma dipajang di sini, kamu kan bisa memperoleh keuntungan.” Mata Pelangi menangkap sebuah lukisan yang sepertinya masih dalam proses penyelesaian. Sebuah pelangi yang setengah melingkar indah di atas rumput hijau, dan setitik bintang kecil. Namun tak dihiraukannya keheranan itu, dan melanjutkan mengamati lukisan lain.
“ Hallo, semua. Nih, ada pisang goreng buatan Rindu. Ayo, cobain, cobain!” seru gadis remaja yang kini meletakkan sepiring pisang goreng.
“ Ehm, enak nggak nih?” tanya Pelangi mulai menyomot pisang itu.
“ Yee, pasti enak dong.”
Aldi masih sibuk mengelap tangannya yang kotor beberapa warna cat. Pelangi yang memperhatikan itu langsung menyuapkan pisang ke mulut Aldi.
***
“ Tapi aku nggak bisa!” seru cewek itu, berdiri dari duduknya dan memandang bangunan-bangunan tinggi dari jendela lantai 5.
“ Kapan lagi?! Kamu selalu mengelak, nggak ada kesempatan-lah, nggak bisa nglakuin sendiri-lah, bahkan sampe lupa aja dijadiin alesan. Emang apa sih yang kalian lakukan selama ini?!” seru Riko, yang mulai tak bisa mengendalikan emosi.
“ Riko, aku butuh….”
“ Butuh satu bulan lagi?? Udah satu bulan berlalu,!” Riko menggebrak meja, hingga cowok perokok yang duduk di sisinya beranjak keluar kamar. “ Teman-teman kita masih sibuk mengentaskan teroris lain di sana. Dan selama ini, kita nggak pernah menyelesaikan misi sampe satu minggu lebih, nggak pernah! Tapi kamu? Target orang cacat aja sampe satu bulan! Kamu bisa nggak sih?”
Cowok perokok kembali tanpa membawa puntung rokok. Ia mendekati cewek itu dan berdiri di sampingnya, mengamati bangunan dari jendela. “ Ada sesuatu denganmu? Katakanlah!”
Cewek itu berusaha menyembunyikan mata merahnya. Berusaha membendung air yang sedari tadi ingin mengucur. Ia memendam perasaan yang bahkan tidak bisa ia artikan maknanya.
“ Aku hanya merasa nggak sanggup aja, Mas. Aku merasa, ada sesuatu antara aku dan dia. Tapi nggak tahu itu apa,” ucap cewek itu.
“ Kamu kasihan dengan orang cacat?”
“ Bukan masalah itu. Tapi, ada sesuatu, sesuatu tentang masa lalu yang bahkan aku udah melupakannya.”
“ Aku tahu, kita semua tahu. Masa lalumu itu adalah bagian terburuk dalam hidupmu. Tapi sekarang, kita semua sedang berusaha membalas dendam atas masa lalu kita itu,” jelas cowok itu. “ Mungkin sekarang kamu sedang merasa bosan, itu wajar. Tapi, ingatlah kedua orangtuamu yang tiba-tiba saja meninggalkanmu, ditarik paksa petugas, difitnah sebagai teroris, diadili dan dibunuh oleh mereka dengan kejam. Dan bahkan masa kecilmu dulu, kau habiskan dalam pengejaran petugas, dikucilkan karena dianggap keluarga teroris, dan siapa yang menyelamatkanmu dari itu semua?? Ingat itu! Kumohon, ingat dan jangan pernah lupakan!”
Cewek itu menghela napas dalam, seperti ada kelegaan yang menutupi sebagian keraguannya.
“ Baik, sekarang kamu udah tenang. Dan, lakukan sekarang!”
***
Aldi menatap semua lukisan yang terjajar rapi. Matanya menerawang begitu jauh, apa makna hasil karyanya itu. Perlahan kenangan itu terkuak.
“ Bintang, nanti kamu mau jadi apa?”
“ Aku pengen jadi pembalap. Tapi kata mama, aku bisa jadi pelukis.”
“ Aah, itu cita-cita murahan. Aku mau jadi pelangi.”
“ Iya juga ya. Nanti kamu jadi pelangi, dan aku bintangnya. Bagus!”
“ Hey, kau ini ikut-ikut saja! Bintang kan pas malam, mana mungkin ada pelangi di malam hari?”
“ Bisa dong. Nanti, kita harus membuat itu bisa, Pelangi.”
Aldi menutup matanya, membulirkan setitik air di pipi.
“ Ayo kita naik bebek boot!”
“ Sayang, mama harus ikut dong, buat jagain kalian!”
“ Aah, mama sama mamanya Bintang naik aja sendiri. Kita maunya cuma naik berdua. Kan ada Bintang yang jagain Pelangi, Ma!”
“ Iya, Tante. Bintang bisa kok sama Pelangi.”
“ Yee, ada ikan oranye!
“ Pelangi, jangan nengok-nengok gitu, nanti kamu nyebur lho.”
BYUUR!!
“ Pelangi! Aduh, Pelangi?? Mama, Tante, Pelangi jatuh! Pelangi, aku akan bantuin kamu,” kata bocah itu sebelum nyebur menyusul gadis kecil yang meraup-raup di air.
Aldi semakin mengusik kenangan.
“ Bintang, hiks. Mama dan papa ditangkap. Mereka nggak bersalah! Tolongin mereka.”
“ Pelangi, aku akan jagain kamu. Kamu jangan sedih dong. Ada mamaku juga kok. Iya, kan, Ma?”
“Iya, Sayang. Mama dan papamu pasti baik-baik saja. Mereka tidak akan diapa-apain sama petugas itu.”
“ Mereka bilang, mama dan papa itu – apa namanya – anggota teris, Tante. Pelangi nggak ngerti teris itu apa.”
Dan sebuah suara di gelapnya malam gerimis itu, menjatuhkan ia hingga melumpuhkan bagian otak yang mensarafi kaki dan pita suaranya.
“ Kamu yakin, dia seorang teroris?”
Aldi menatap sebuah ID-Card dalam genggamannya. ID-Card, sebagai tanda anggota sebuah organisasi ilegal yang selama ini jadi buronan.
“ Hai, Aldi!” seru Pelangi yang ternyata sudah berdiri di belakang Aldi.
Aldi segera menyembunyikan ID-Card itu.
“ Ke taman,yuk! Aku punya kejutan lho.”
Aldi menutup matanya, berusaha mengorbankan semuanya. Demi sebuah cinta yang lama ia pendam sejak kecil. Cinta Bintang dan Pelangi.
Aldi membiarkan begitu saja dengan segenap ketulusan, saat Pelangi mendorong kursi rodanya. Hingga di taman itu, Pelangi membawanya ke sebuah tempat yang cukup sepi dari keramaian.
“ Aldi, kamu di sini bentar ya. Aku mau ke toilet,” kata Pelangi dengan sinar mata menyilaukan, seakan bermakna bagi Aldi.
Aldi menahan tangan Pelangi, menyelipkan sebuah kertas dalam genggamannya. matanya mengisyaratkan agar Pelangi membacanya sekarang. Namun Pelangi tergesa-gesa menuju toilet yang ia maksud sendiri.
Sementara tangan Aldi mengepal, menampakkan otot-otot. Ia berusaha menegarkan hati. Tak pernah ia sangka, gadis yang sangat ia cintai sejak kecil, adalah dia. Ya, dialah gadis kecil itu yang kini beranjak dewasa dan larut dalam kenangan yang mengubah seluruh hidupnya.
“ Bintang, mereka menuduh mama dan papa adalah teris. Apa itu teris, Bintang? Gara-gara teris, mama dan papa dibunuh. Aku benci teris!”
***
“ Mbak Pelangi!” seru gadis yang matanya sembab. “ Dimana mas Bintang?! Dimana?!”
Pelangi menatap tajam gadis itu. “ Dia adalah teroris. Dan teroris, berhak mendapat balasan seperti yang ia lakukan!”
“ Atas dasar apa? Haa?! Dia kakakku!”
Pelangi menggebrak meja, hingga beberapa cat warna dan kuas jatuh berserakan. “ Peduli apa aku! Mereka yang menyebabkan orangtuaku mati! Dan mereka pun harus mati! Kamu cuma bocah kecil yang nggak tahu apa-apa.” Pelangi membuka kain putih panjang yang menutupi beberapa lukisan. Ia hendak menyita semua lukisan itu.
Namun tiba-tiba, gerakannya membereskan lukisan terhenti saat kedua matanya menangkap beberapa lukisan di sudut. Lukisan bebek boot itu, lukisan dua bocah bermain layangan, dan semua aktivitas yang dilakukan dua bocah pun dilukiskan di atas kanvas. Tapi, yang paling membuatnya miris, ada sebuah pelangi besar di malam hari, dan di sampingnya ada setitik bintang terang.
“ Selama ini, mas Aldi selalu mencari Mbak Pelangi. Tapi ternyata, Mbak tega, ya.”
Pelangi segera membuka lipatan kertas yang sempat Aldi berikan.
Dulu kita pernah berjanji, akan menyatukan pelangi dan bintang agar bisa bersama. Dan aku berhasil menyatukannya dalam lukisan. Kau pun ingin menjadi pelangi, Dan kini kau lebih dari sebuah pelangi. Kau lebih dari seorang Pelangi.
Maaf, saat itu, aku tidak bisa menyelamatkanmu dari pengejaran petugas, Mereka yang menuduh keluargamu sebagai kelompok yang kau anggap ‘teris’ Mereka memang jahat, Pelangi. Tapi kau berdosa, bila membalas masa lalu yang sudah digariskan Tuhan. Terimalah, Pelangi. Terima. Seperti sebuah bintang yang menanti pelangi di malam hari.
Bintang Renaldi

Pelangi jatuh terduduk, tubuhnya lemas, air matanya bercucuran bersamaan lelahnya hati atas penantian panjang itu. Dan cinta yang ia mimpikan setiap malam, selama ini ada di hadapannya.
“ Bintang….,” isaknya.
“ Dimana mas Aldi?!”
Pelangi terkesiap. “ Riko? Riko yang membawanya!” serunya sambil berlari menuju taman, berharap mereka belum menyelesaikan misinya itu. Sebab Bintang tidak bersalah.

SELESAI

Alya Nur Fadhilah
(Januari, 2012) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar